Melampaui Rasa: Membangun Masa Depan Gastronomy Tourism Indonesia
Penulis: Dani Fauzi, Programme Officer
Reviewer dan Editor: Wiwik Mahdayani
Desain Grafis: Ganyos Paryama Sidik
"Food is not rational. Food is culture, habit, craving and identity”, kalimat dari Jonathan Safran Foer ini membuka pemahaman mendalam bahwa makanan melampaui sekadar pemenuhan rasa dan kebutuhan fisik, tetapi juga menggambarkan emosi, kebiasaan, serta identitas sosial-budaya. Inilah yang menjadi inti dari gastronomy tourism atau wisata gastronomi—sebuah pengalaman yang mengajak wisatawan untuk menyelami budaya suatu daerah melalui cita rasa lokalnya. Dalam wisata gastronomi, makanan menjadi pintu masuk untuk memahami tradisi, sejarah, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.

Akhir tahun 2024 lalu, riset tahunan dari TasteAtlas mendapatkan hasil 6 kota di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Solo, dan Yogyakarta— masuk dalam daftar "100 Best Food Cities in the World 2024-2025". Hal menegaskan kekayaan kuliner Nusantara yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mendapatkan pengakuan secara global. Dalam lingkup Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Indonesia berhasil unggul atas negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Filipina, hingga Laos. Rawon menjadi satu-satunya hidangan dari Indonesia yang berhasil menembus peringkat 10 besar dalam daftar 100 hidangan terbaik dunia 2024/2025.
Survei Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) 2024 mencatat kuliner sebagai subsektor ekonomi kreatif terbesar kedua setelah film animasi & video, dengan proyeksi pertumbuhan 46,51% (Kemenparekraf RI, 2024). Pada Triwulan IV 2024, industri makanan dan minuman tumbuh 5,90%, berkontribusi pada PDB industri pengolahan nonmigas yang naik 4,89% (Suandi, 2025).
Gastronomi adalah seni dan ilmu makan-minum yang mencakup tradisi, budaya, dan peradaban (Gillespie & Cousins, 2001). Wisata gastronomi menawarkan pengalaman kuliner unik yang mendorong motivasi perjalanan (Onur & Onur, 2016) serta mendukung keberlanjutan dengan menekankan lokalitas makanan untuk meningkatkan daya saing destinasi global (Montarini & Staniscia, 2009).

Gastronomi Indonesia adalah refleksi dari keanekaragaman budaya, sejarah, dan kondisi geografis yang membentuk identitas kuliner di setiap wilayah. Sumatra kaya akan cita rasa pedas dan asam dengan pengaruh Melayu, India, dan Timur Tengah, sementara Maluku dan Papua memanfaatkan hasil laut, sagu, dan kelapa sesuai dengan ekologi maritimnya. Jawa menawarkan kompleksitas rasa dari asin hingga manis, mencerminkan perpaduan budaya lokal dan kolonial. Kalimantan mengandalkan ikan sungai dan tradisi Dayak-Melayu, sementara Sulawesi menonjol dengan seafood khas Bugis, Makassar, dan Minahasa. Bali, dengan bumbu base genep, mempertahankan filosofi kuliner berbasis Hindu. Kombinasi faktor geografis dan budaya ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu warisan kuliner terkaya di dunia.
Konsumsi kuliner kini berfokus pada pengalaman emosional dan kenangan, mendorong tren Experiential Experience sebagai strategi bisnis yang menyajikan lebih dari sekadar hidangan, tetapi juga cerita dan interaksi (Kemenparekraf RI, 2024). Tren ini didorong oleh milenial dan Gen Z yang lebih menghargai pengalaman unik dan bersedia membayar lebih untuk itu.
Tren Experiential Experience selaras dengan tren kuliner dalam pendekatan baru gastronomi menurut Yikmis et al (2024), yang keduanya berorientasi pada penciptaan pengalaman unik dan inovatif pada konsumen. Enam tren gastronomi—Fusion Cuisine, Molecular Gastronomy, Slow Food, Nouvelle Cuisine, Refined Cuisine, dan Note by Note Cuisine—berpotensi diimplementasikan di Indonesia melalui inovasi rasa berbasis kearifan lokal, teknologi kuliner berbasis sains, penguatan ekosistem pangan berkelanjutan, peningkatan standar fine dining, serta eksplorasi bahan sintetis untuk efisiensi industri pangan.
Indonesia telah serius dalam pengembangan wisata gastronomi beberapa tahun terakhir. Beberapa program telah dilaksanakan untuk mendukung pengembangan gastronomi di Indonesia, antara lain:

Meskipun telah diluncurkan berbagai program strategis seperti penetapan destinasi gastronomi utama, Indonesia Spice Up The World, pendirian pusat kajian gastronomi, hingga peluncuran dashboard gastrodiplomasi, implementasi masih kurang optimal. Beberapa tantangan yang perlu menjadi perhatian utama antara lain:
1. Kesulitan membangun brand kuliner terpadu, berbeda dengan Thailand yang sukses menciptakan identitas kuliner “Amazing Thai Taste” yang festivalnya dikenal secara global;
2. Kurangnya kebijakan yang mengarah pada penguatan kuliner hulu ke hilir di setiap daerah;
3. Bisnis franchise kuliner di Indonesia didominasi oleh brand asing, dengan peningkatan jumlah sekitar 5% per tahun, sementara brand lokal cenderung stagnan (Tiofani & Prasetya, 2024);
4. Promosi wisata kuliner belum cukup berpihak pada masyarakat menengah ke bawah, sehingga manfaat ekonominya menjangkau seluruh lapisan masyarakat (Purnomo, 2023).
5. Tereduksinya kearifan lokal dan semakin jauhnya masyarakat urban dari identitas kelokalan (Marwanti dalam Chairunnisa, 2022); serta
6. Lemahnya diplomasi gastronomi dibanding Thailand dan Vietnam akibat minimnya diaspora terorganisir dan penyesuaian nama makanan ke bahasa asing (Wongso dalam Afrilian, 2024).
Menyikapi hal tersebut, saat ini konsep gastronomy tengah menjadi perhatian khusus untuk dikembangkan. Salah satu program unggulan Kementerian Pariwisata di tahun 2025 adalah “Pariwisata Naik Kelas: Gastrotronomy, Marine, dan Wellness Tourism”. Tanpa pengembangan gastronomy tourism yang serius, Indonesia berisiko tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang telah sukses memanfaatkan kuliner sebagai daya tarik wisata melalui strategi diplomasi dan promosi terorganisir. Jika melihat pada pokok permasalahan sebelumnya dan sifat industri pariwisata yang tidak bisa berjalan sendiri, memang tantangan di atas terasa dilematis. Strategi penguatan gastronomy yang memungkinkan dilakukan guna mendukung program “Pariwisata Naik Kelas” menanggapi problema di atas diantaranya:
1. Pelibatan aktif multi-stakeholder untuk memonitoring dan mengevaluasi program-program yang sudah ada sebelumnya;
2. Pembentukan identitas/branding gastronomi Indonesia yang diakselerasi dengan kalender festival kuliner nasional yang konsisten;
3. Penguatan kebijakan gastronomi berkelanjutan "farm-to-table" dalam peraturan daerah kepariwisataan untuk mendukung kesejahteraan petani, peternak, nelayan, dan mendorong penggunaan bahan lokal oleh industri; serta
4. Penyusunan pedoman teknis pembiayaan usaha yang berfokus pada konsep wisata gastronomi yang mencakup syarat pengajuan, kriteria usaha, mekanisme verifikasi, hingga pendampingan pasca-pembiayaan guna menciptakan inklusivitas gastronomy di Indonesia.
Upaya pengembangan wisata gastronomi di Indonesia sejatinya perlu didukung oleh kolaborasi setiap elemen masyarakat dan stakeholder terkait. Salah satu contoh konkret adalah inisiatif DESMA Center mengadakan Pelatihan Kuliner bagi para pelaku ekowisata di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu rangkaian program Peningkatan Kapasitas Pelaku Ekowisata di TNGL; tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan memasak serta memperkenalkan makanan berbasis bahan lokal yang higienis kepada para pelaku usaha wisata di Kawasan Ekowisata Batu Katak, tetapi juga mendorong masyarakat lokal, khususnya para perempuan, untuk lebih menghargai dan bangga akan kuliner tradisional mereka; yang tidak terpikirkan oleh mereka untuk dihidangkan kepada wisatawan.
Dalam pelatihan ini, para peserta mendapat kesempatan belajar langsung dari Celebrity Chef, Ragil Imam Wibowo, yang memperkenalkan cara memasak masakan lokal dengan standar yang lebih baik. Lebih dari sekadar pelatihan, hasil dari program ini telah membuka peluang ekonomi nyata, di mana DESMA Center mempercayakan penyediaan katering untuk setiap pelatihan, event, hingga famtrip (familiarization trip) kepada para peserta dalam berbagai kegiatan program tersebut. Selain itu, keterampilan yang peserta peroleh telah membantu mereka menerima pesanan dari berbagai tur/lini bisnis lain di wilayah tersebut, menjadikan mereka bagian aktif dari ekosistem wisata gastronomi yang berkelanjutan.
Referensi:
Afrilian, D. (2024, Agustus 14). Kuliner Indonesia Sulit Populer di Dunia, Ini Kata Pakar Kuliner. Retrieved from Detik Food: https://food.detik.com/info-kuliner/d-7489330/kuliner-indonesia-sulit-populer-di-dunia-ini-kata-pakar-kuliner
Chairunnisa, N. (2022, April 27 ). Potensi Wisata Gastronomi di Daerah Menurut Profesor Tata Boga UNY. Retrieved from Tempo: https://www.tempo.co/gaya-hidup/potensi-wisata-gastronomi-di-daerah-menurut-profesor-tata-boga-uny-363311
Gillespie, C., & Cousins, J. (2001). European Gastronomy into the 21st Century (1st ed.). London: Routledge.
Kemenparekraf RI. (2024). Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2024/2025. Jakarta: Kemenparekraf RI.
Montanari, A., & Staniscia, B. (2009). Culinary Tourism as a Tool for Regional Re-equilibrium. European Planning Studies, 17(10), 1463–1483.
Onur, N., & Onur, F. (2016). Potential of Gastronomy Tourism within Culture Tourism and Developing. Dalam C. Avcıkurt, M. S. Dinu, N. Hacıoğlu, R. Efe, A. Soykan, & N. Tetik, Global Issues and Trends in Tourism (hal. 470-479). Sofya: St. Kliment Ohridski University Press.
Purnomo, A. (2023). The Challenge of Pro-Poor Culinary Tourism Development. IJSCOT, Vol. 2 No. 02.
Suandi, A. (2025, February 7). Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi, Kinerja Industri Manufaktur Meningkat. Retrieved from LPP RRI: https://www.rri.co.id/info-kementerian/1306666/jadi-sumber-pertumbuhan-ekonomi-kinerja-industri-manufaktur-meningkat
Tiofanil, K., & Prasetya, A. W. (2024, August 10). Bisnis Franchise Makanan Dikuasai Asing, padahal Punya Potensi Besar. Retrieved from Kompas: https://www.kompas.com/food/read/2024/08/10/101000475/bisnis-franchise-makanan-dikuasai-asing-padahal-punya-potensi-besar
TasteAtlas. (2024). TasteAtlas Awards 24/25. Retrieved from TasteAtlas: https://www.tasteatlas.com/best/cities
Yıkmış, S., Türkol, M., Abdi, G., İmre, M., Alkan, G., Aslan, S. T., . . . Aadil, R. M. (2024 ). Culinary Trends in Future Gastronomy: A Review. Journal of Agriculture and Food Research, 18, 101363.
