Reorientasi Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata
Penulis: Dani Fauzi, Programme Officer
Editor dan Reviewer: Wiwik Mahdayani
Desain Grafis: Ganyos Paryama Sidik, Graphic Designer
Pariwisata tidak lagi hanya terbatas pada aktivitas perjalanan atau sektor ekonomi berbasis kunjungan semata, melainkan juga sebagai industri pengalaman yang ditentukan oleh kualitas interaksi manusia. Perubahan pola konsumsi wisata, meningkatnya ekspektasi wisatawan, serta masifnya digitalisasi mendorong pariwisata bergerak ke arah yang lebih kompetitif, adaptif, dan berbasis nilai tambah. Dalam konteks ini, tenaga kerja menempati posisi strategis penentu daya saing, sekaligus sebagai faktor paling rentan tertinggal ketika tidak disertai kompetensi yang sesuai.
Menurut World Economic Forum (2025), meskipun mampu menciptakan peluang kerja yang besar, sektor perjalanan dan pariwisata masih menghadapi tingkat turnover yang tinggi, kesenjangan keterampilan yang mengancam pertumbuhan dan kualitas layanan, serta kekurangan tenaga kerja yang persisten (bahkan bertahun-tahun setelah pemulihan pascapandemi). Lebih lanjut, Kementerian Pariwisata (2025) mengidentifikasi tantangan SDM pariwisata meliputi rendahnya kesejahteraan pekerja, kurangnya pelatihan berkelanjutan, dan penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan latar belakang dan keahliannya.

Sumber: Elaborasi DESMA Center (2026)
Jumlah tenaga kerja pariwisata Indonesia menunjukkan grafik meningkat dari 21,25 juta tahun 2021, menjadi 25,91 juta tahun 2025. Pemerintah Indonesia menargetkan jumlah tenaga kerja pariwisata mencapai 29 juta pada tahun 2029. Artinya, sektor pariwisata berperan penting dalam perluasan kesempatan kerja. Hal ini perlu sejalan dengan peningkatan kualitas layanan dan pengalaman wisatawan.
Enam kotak merah pada bagan di atas merangkum alasan mengapa pertumbuhan tenaga kerja berpotensi tidak optimal, yaitu kesenjangan keterampilan dan minimnya pelatihan berkelanjutan yang mengakibatkan pekerja sulit memenuhi standar layanan modern (termasuk tuntutan digital/AI). Lebih lanjut, kesejahteraan yang rendah memperlemah motivasi dan retensi. Selain itu, kondisi ini memicu turnover tinggi dan kurangnya tenaga kerja berkelanjutan., Ketidaksesuaian penempatan dengan latar belakang/keahlian, akan berdampak pada menurunnya produktivitas. Keseluruhan variabel ini membentuk siklus: kualitas kompetensi dan kondisi kerja yang lemah mendorong turnover tinggi pada tenaga kerja. Hal tersebut menyebabkan risiko layanan tidak stabil, yang pada akhirnya berpotensi menghambat pencapaian target 29 juta tenaga kerja produktif. Kondisi ini akan berdampak pada terhambatnya upaya penguatan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Merujuk pada laporan UNESCO (2024), SDM pariwisata yang ditandai oleh pertumbuhan kuantitatif tenaga kerja, namun rapuh secara kualitas mencerminkan dinamika industri dan sistem pengembangan kompetensi yang tidak sinkron. Transformasi pariwisata yang semakin terdigitalisasi dan berorientasi pada keberlanjutan, tidak hanya mengubah jenis pekerjaan, tetapi juga cara kerja, proses layanan, serta ekspektasi terhadap tenaga kerja di berbagai level. Dalam konteks ini, masalah seperti skill mismatch, turnover tinggi, dan rendahnya produktivitas tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan terbatasnya integrasi kompetensi hijau dan digital ke dalam pendidikan dan pelatihan vokasi secara sistemik. UNESCO menekankan bahwa tanpa penyesuaian kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan berbasis praktik-rutin, dan sikap kerja; pertumbuhan tenaga kerja justru berisiko memperlebar kesenjangan antara target penciptaan lapangan kerja dan kualitas pengalaman wisata yang dihasilkan.
Penguatan SDM pariwisata menuntut pergeseran pendekatan dari sekadar penyediaan tenaga kerja menuju pembangunan human capital yang adaptif terhadap transisi ganda (green and digital transition). Hal ini mencakup kemampuan tenaga kerja untuk mengoperasikan teknologi digital, memahami efisiensi sumber daya, serta beradaptasi dengan proses kerja baru yang lebih berkelanjutan. Dalam kerangka Technical and Vocational Education and Training (TVET), kompetensi tersebut tidak cukup ditambahkan sebagai modul terpisah, melainkan perlu diintegrasikan ke dalam unit dan elemen kompetensi lintas mata pelajaran dan jenjang kerja.
Dengan demikian, isu SDM pariwisata dapat dipahami bukan sebagai persoalan kurangnya tenaga kerja, melainkan sebagai tantangan struktural dalam menyelaraskan sistem pendidikan, kebutuhan industri, dan arah transformasi pariwisata jangka panjang.
DESMA Center melalui Program TVET for Sustainable Tourism Development merancang dan melakukan implementasi sebagai upaya fundamental penyelarasan sistem pendidikan kejuruan pariwisata sesuai dengan tuntutan industri, peluang kerja bagi generasi muda, dan arah pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Program 5 (lima) tahun ini dilaksanakan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, didukung oleh MISEREOR/KZE dan Kindermissionswerk 'Die Sternsinger'; diimplementasi oleh DESMA Center. Penguatan Kapasitas SDM Pariwisata ini bertujuan mewujudkan Program pendidikan sekolah kejuruan pariwisata di Sumba agar memenuhi kebutuhan dan persyaratan industri pariwisata, sehingga menawarkan kesempatan kerja yang lebih baik bagi kaum muda serta mendukung pariwisata berkelanjutan di Sumba.
Program ini meliputi penguatan (1) Kapasitas manajemen sekolah kejuruan pariwisata; (2) Kapasitas guru dalam pengetahuan pedagogi, tentang pengajaran dan pariwisata berkelanjutan (3) Kemitraan SMK Pariwisata-Industri Pariwisata; dan (4) Kapasitas kewirausahaan siswa dalam penciptaan bisnis pariwisata berkelanjutan.
Penerima manfaat langsung program:
-SMK Pancasila – Tambolaka, Sumba Barat Daya
-SMK Negeri 2 Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya
-SMK Bakti Luhur – Tambolaka, Sumba Barat Daya
-SMK Efata – Omba Rade, Sumba Barat Daya
-SMK Negeri 1 Waikabubak, Sumba Barat
Mitra langsung program:
-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur
-Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya
-Pemerintah Kabupaten Sumba Barat
-Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya
-Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat
