World Tourism Day 2025: Momentum Mendorong Transformasi Keberlanjutan
Penulis: Dinda Khansa A.R, DESMA Center
Editor: Tim Program DESMA Center
Tanggal 27 September setiap tahunnya merupakan peringatan Hari Pariwisata Sedunia. Dikenal sebagai gerakan World Tourism Day yang diinisiasi oleh UN Tourism. Untuk memperingati World Tourism Day 2025, dilaksanakan World Tourism Conference yang ke-7 di Melaka, Malaysia dengan tema: Tourism and Sustainability Transformation. Tema tersebut merupakan pesan yang sangat relevan untuk menjawab tuntutan global mewujudkan pariwisata yang lebih berkelanjutan, bertanggung jawab, dan inklusif. Bagi Indonesia, hal ini menjadi acuan mempercepat proses perubahan tata kelola destinasi pariwisata agar tetap lestari.
Lebih dari sekadar tren belaka, pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga manfaat bagi ekonomi dan sosial masyarakat. Penerapan konsep ini mencakup pengelolaan sampah secara sirkular, pelestarian budaya/kearifan lokal, hingga pemberdayaan masyarakat sebagai stakeholders pariwisata. Selain itu munculnya awareness dari wisatawan yang mencari destinasi pariwisata yang tidak hanya indah tetapi juga memikirkan etika dan berkelanjutan.
Dalam studi kasus wisatawan di Langkawi, Malaysia ditemukan bahwa persepsi wisatawan terhadap praktik keberlanjutan ekologis destinasi secara signifikan meningkatkan kepuasan mereka dan mendorong niat untuk kembali (Shamim et al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi yang ramah lingkungan bukan sekadar upaya pelestarian, tetapi juga strategi efektif untuk memperkuat loyalitas dan daya saing destinasi.
Sebagai kawasan dengan potensi pariwisata yang besar, negara-negara ASEAN sudah mulai melangkah mendorong sustainability movement, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Negara-negara tersebut memiliki gerakan mendorong implementasi pariwisata berkelanjutan, diantaranya:
Sumber: Elaborasi DESMA Center (ANTARA News, 2023; Economic Reserch Institute for ASEAN and East Asia, 2024; Kemenparekaf, 2021; Ong, n.d.; Phob-udom et al., 2025)
Untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan, pemerintah memiliki peran penting dalam menyiapkan aturan, insentif, dan arah yang jelas. Pelaku usaha dapat berinovasi menghadirkan produk wisata yang lebih ramah lingkungan dan hemat sumber daya. Masyarakat lokal menjaga budaya, sekaligus ikut terlibat langsung dalam aktivitas pariwisata. Sementara wisatawan memegang peran memilih destinasi yang peduli lingkungan dan berperilaku lebih bertanggung jawab saat berwisata. Ketika semua pihak berjalan beriringan, keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon, melainkan kenyataan yang terasa dampaknya.
Tidak hanya strategi, berbagai aksi berkelanjutan sudah diimplementasikan di destinasi pariwisata Indonesia. Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta misalnya, sukses menerapkan konsep community-based tourism (CBT) yang memberdayakan masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan (2021). Konsep serupa juga dikembangkan di Desa Wisata Lamajang di Bandung (Andjanie et al., 2023) dan Desa Prai Ijing di Sumba Barat (LEDEWARA & PRANOTO, 2025). Praktik ecolodge yang ramah lingkungan di berbagai daerah di Indonesia juga menjadi contoh penerapan prinsip ekowisata yang melibatkan masyarakat lokal (Azzahra et al., 2023). Berbagai inisiatif ini menunjukkan bahwa arah menuju pariwisata berkelanjutan di Indonesia semakin nyata dan bisa menjadi inspirasi bagi destinasi lain.
Tema Sustainability and Transformation bukan hanya sekadar slogan tahun ini; namun merupakan bentuk ajakan nyata untuk kita semua bergerak bersama. Dengan kerja sama lintas sektor, kita bisa memastikan pariwisata bukan hanya berkembang, tetapi juga memberikan manfaat yang adil, lestari, dan dirasakan generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
Andjanie, I. F., Asyifa, N., Pratama, R. K., & Furqan, A. (2023). Strengthening Community Involvement: an in-Depth Exploration of the Community-Based Tourism (Cbt) Approach in Lamajang Tourism Village, Bandung Regency. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, 17(2), 182–205.
ANTARA News. (August). Tourism Ministry pushes sustainability to attract quality visitors. August 9, 2025. https://en.antaranews.com/news/372249/tourism-ministry-pushes-sustainability-to-attract-quality-visitors
ANTARA News. (2023, October). Indonesia, UNDP to draft tourism decarbonization road map.
Azzahra, P. R., E., N. R., P., I. P., A., N. K., Khairiyah, Y., & Furqan, A. (2023). Identifikasi Praktik Ecolodge di Indonesia Berdasarkan Prinsip Ekowisata: Studi Literatur. Jurnal Nasional Pariwisata, 13(1), 52. https://doi.org/10.22146/jnp.80850
Economic Reserch Institute for ASEAN and East Asia. (2024). Action roadmap for sustainable tourism development in ASEAN (p. 80).
Kemenparekaf. (2021). Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Kemenparekaf, 2–75.
LEDEWARA, K. E., & PRANOTO, P. (2025). Prai Ijing: Dissecting the Magic of Community-Based Tourism in the Heart of West Sumba. Journal of Tourism Economics and Policy, 5(3), 355–372. https://doi.org/10.38142/jtep.v5i3.1340
Ong, H. H. (n.d.). Enhancing Singapore ’ s Resilience through Sustainable Tourism.
Phob-udom, P., Zhao, Y., Chumnanont, C., Yaiyong, A., & Chutiphongdech, T. (2025). Comparative Analysis of Tourism Policies Among ASEAN Member Countries: A Documentary Research Approach. Asia Social Issues, 18(3), e272910. https://doi.org/10.48048/asi.2025.272910
Ristiawan, R., & Tiberghien, G. (2021). A Critical Assessment of Community-Based Tourism Practices in Nglanggeran Ecotourism Village, Indonesia. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 9(1), 26–37. https://doi.org/10.21776/ub.jitode.2021.009.01.04
Shamim, N. M., Ismail, A. N. N., Rosely, N., & Thani, A. K. A. (2024). The Impact of Ecological Sustainability on Tourists’ Satisfaction and Revisit Intention: A Case Study in Langkawi, Malaysia. Advances in Social Sciences Research Journal, 11(3), 156–165. https://doi.org/10.14738/assrj.113.16648
