Kementerian Pariwisata dan COMCEC OIC dengan DESMA Center sebagai Knowledge Partner Mengadakan International Workshop Empowering Sustainable Tourism: Integrating Blue, Green, and Circular Economy (BGCE) into Tourism Operations
Penulis: Communication Unit
International Workshop Empowering Sustainable Tourism: Integrating Blue, Green, and Circular Economy (BGCE) into Tourism Operations dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan COMCEC OIC dengan DESMA Center sebagai Knowledge Partner, dilaksanakan di Jakarta pada 26 – 29 Agustus 2025.
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dan kemitraan dengan Committee for Economic and Commercial Cooperation (COMCEC) sebagai salah satu dari empat komite tetap Organisasi Kerjasama Islam (OKI), sebagai mitra strategis Indonesia dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas para pemangku kepentingan pariwisata dalam menerapkan prinsip Blue, Green, dan Circular Economy (BGCE) ke dalam operasional usaha pariwisata sehari-hari, serta menjadi forum pertukaran pengetahuan antar negara anggota OKI (OIC) mengenai kebijakan, strategi, serta praktik terbaik dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Workshop internasional ini diikuti oleh 70 peserta, terdiri dari delegasi negara anggota OKI (Turki dan Malaysia), Kemenpar, perwakilan kementerian/lembaga, dinas pariwisata daerah, asosiasi, akademisi, serta pelaku industri. Peserta mencakup Dinas Pariwisata, PHRI, serta pelaku usaha hotel dan restoran di DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Tangerang Selatan, yang diharapkan dapat menjadi pelopor adopsi dan penerapan prinsip BGCE pada usaha masing-masing.

Workshop dibuka oleh Ibu Rizki Handayani, Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata yang menyampaikan bahwa Pariwisata merupakan sektor dengan kontribusi besar bagi ekonomi nasional, namun juga rentan terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Hal ini mendorong pemerintah menempatkan Blue, Green, dan Circular Economy (BGCE) sebagai instrumen utama pembangunan pariwisata berkelanjutan. Workshop ini menjadi upaya Kementerian Pariwisata untuk memberikan pemahaman, pelatihan, dan berbagi praktik terbaik terkait implementasi BGCE, sekaligus membangun kemitraan strategis menuju pariwisata yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut tertuang dalam RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045, di mana pariwisata berkualitas ditetapkan sebagai prioritas pembangunan nasional.
Terdapat sesi pemantik dengan tema Framework of Sustainability in Tourism Sector among OIC Member States yang membahas kebijakan, tantangan, dan strategi implementasi kerangka BGCE di sektor pariwisata, yang disi oleh narasumber H.E. Prof. Dr. Talip Küçükcan, Duta Besar Turki untuk Republik Indonesia, yang menyampaikan transformasi pariwisata Türkiye menuju keberlanjutan melalui kebijakan dan program nasional. Sesi ini juga diisi oleh Ibu Siti Hadjar Mohd Yunus, perwakilan Duta Besar Malaysia untuk Republik Indonesiaserta Bapak Abdurrahman Raffi, perwakilan Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, Kementerian PPN/Bappenas RI.
Sesi pemantik kedua dari perwakilan pelaku usaha dengan tema Best Practices in Adopting and Implementing Sustainability Measures in the Hospitality Industry, yang disi oleh para praktisi terkemuka yaitu Bapak Nicolas Perez, CEO PT PIPA: BGCE – From Crisis to Success: Water Sustainability as a Business Advantage (Praktik pengelolaan air berkelanjutan; Bapak Rendy Aditya, Founder Parongpong Recycle & Waste Lab: Circular Economy Practices in Food and Waste Management (Inovasi pengelolaan sampah & residu; Ibu Prisca Winata, Senior Vice President JLL Indonesia – Sustainable Investment and Green Building in Tourism Sector (perspektif investor & green certification; serta Ibu Santi Permanasari, Director of Talent & Culture, Pullman Jakarta Central Park – Implementing BGCE in Hotel Operations (strategi hotel dalam BGCE) sebagai perwakilan dari venue dilaksanakannya workshop ini.
Selain sesi pemantik, terdapat empat sesi intensif penyampaian module-module tematik terkait adopsi dan penerapan prinsip keberlanjutan pada operasional usaha pariwisata, yang disampaikan oleh Adj. Prof. Anthony Wong, Group Managing Director Universiti Utara Malaysia & Owner and Managing Director of The Frangipani Langkawi Resort & Spa; Ibu Arzu Kahraman Yılmaz, Ministry of Culture and Tourism, Dr. Baskoro Lokahita, ENG, Akademisi Universitas Indonesia serta Ibu Lucia Karina, Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata Berkelanjutan dan Ibu Natasha Gabriella BPP Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Selain itu, dilaksanakan site visit untuk melihat langsung praktik terbaik keberlanjutan yang telah diterapkan oleh Hotel Pullman Jakarta Central Park serta mengunjungi Taman Safari Indonesia yang menyajikan praktik terbaik ecotourism & integrated waste management system (organik, plastik, daur ulang air). Kegiatan ditutup oleh penyampaian dari Bapak Asdep Manajemen Usaha Pariwisata Berkelanjutan, Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kemenerian Pariwisata bahwa penerapan BGCE dalam pariwisata memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, akademisi, asosiasi, serta masyarakat.
Hasil workshop ini memberikan rekomendasi penyusunan kebijakan dan regulasi nasional, sebagai payung hukum penerapan prinsip keberlanjutan sektor pariwisata; yang menjadi dasar bagi integrasi BGCE ke dalam standar industri pariwisata, serta acuan bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha, penguatan kapasitas SDM, pemberian insentif kepada industri hijau, serta peningkatan jejaring internasional antarnegara anggota OKI.
Workshop ini juga mendorong kerja sama antar anggota OKI untuk kolaborasi dan pertukaran pengalaman praktik terbaik berkelanjutan pada level kebijakan, regulasi, maupun implementasi pada pelaku usaha.
Laporan lengkap workshop beserta sesi dan hasil detail akan tersedia dalam waktu dekat pada kanal media sosial DESMA Center.
