Sekolah Aman dan Bebas Perundungan: Kunjungan Kindermissionswerk ke Sumba Barat Daya

Penulis: Agustina Purnami Setiawi, Programme Officer Field Office Sumba 

Editor: Siti Nur Hasbiyana, Program Associate and Outreach 

 

Menghadapi tantangan pendidikan nasional terkait kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah, DESMA Center bersama mitra internasionalnya – Kindermissionswerk (KMW) – menunjukkan komitmen kuat untuk mendorong terciptanya satuan pendidikan yang aman dan inklusif bagi semua anak. Pada 5-6 Mei 2025, kunjungan Ibu Claudia Rupp dan Ibu Pupu Purwaningsih dari KMW Jerman, dilakukan untuk memantau langsung implementasi kebijakan perlindungan anak dan program anti-perundungan di tiga sekolah dampingan DESMA Center di Sumba Barat Daya: SMK Efata Omba Rade, SMK Pancasila Tambolaka, dan SMK Bakti Luhur Tambolaka


Hari pertama kunjungan berfokus pada observasi langsung dan diskusi partisipatif. Di SMK Efata Omba Rade,  Kepala Sekolah Bapak Melkianus Tamo Ama, S.Pd menyampaikan bahwa program Safe Learning and Safeguarding yang diinisiasi DESMA Center telah menciptakan perubahan signifikan. "Sebelumnya, kasus perundungan sering terjadi, tetapi sekarang siswa lebih berani melapor dan guru lebih sigap menangani," ujarnya. Hal ini mencerminkan terbentuknya budaya keterbukaan dan kepercayaan antara siswa dan tenaga pendidik.

 

Di SMK Pancasila, diskusi mendalam dengan guru dan siswa mengungkap peningkatan kesadaran akan pentingnya mekanisme pelaporan yang aman. Bapak Dominggus Ama Kii, S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, menjelaskan, “Pelatihan dari DESMA Center telah meningkatkan pemahaman kami dalam mengidentifikasi tanda-tanda kekerasan. Kami sekarang memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani keluhan siswa tanpa menimbulkan stigma." 

 

Sementara itu, SMK Bakti Luhur Tambolaka menunjukkan inovasi lokal dengan membentuk peer counselor dari kalangan siswa sendiri. Kepala Sekolah, Ibu F.R. Titik Palupi,M.M menekankan pentingnya keberlanjutan program. "Kami berharap DESMA Center terus mendampingi kami, terutama dalam penguatan sistem pelaporan dan pendampingan psikologis," ucapnya.

 

Tim melakukan evaluasi menyeluruh di kantor Desma Center Sumba pada hari kedua. Tim meninjau dokumen pendukung program dan laporan keuangan sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas. Diskusi mendalam menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk perlunya kolaborasi multipihak. Ibu Pupu menyampaikan, "Kami melihat pentingnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam memperkuat safeguarding di sekolah."


Dari hasil kunjungan, tim menyepakati beberapa fokus pengembangan, antara lain pendampingan berkelanjutan bagi sekolah dampingan, perluasan program ke sekolah-sekolah terdampak lainnya, serta peningkatan kapasitas guru dan siswa melalui pelatihan lanjutan. Ibu Claudia menggarisbawahi bahwa keberhasilan program ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua pihak. "Kami sangat mengapresiasi kerja keras DESMA Center dan sekolah dampingan. Langkah selanjutnya adalah memastikan program ini berjalan berkelanjutan," ujarnya.

 

Kegiatan visitasi ini ditutup dengan semangat dan harapan bagi masa depan pendidikan di Sumba. Para kepala sekolah, guru, dan siswa menyampaikan apresiasi atas pendampingan DESMA Center, serta berkomitmen untuk terus mengimplementasikan kebijakan perlindungan anak dan anti-perundungan dalam keseharian di sekolah. Dengan dukungan Misereor dan KMW serta berbagai pemangku kepentingan lain, program ini diharapkan menumbuhkan budaya positif secara berkesinambungan. 

 

"Setiap anak berhak atas lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Kami akan terus menjaga itu." pungkas Melkianus Tamo Ama,S.Pd, mewakili seluruh sekolah dampingan.