Urgensi Penguatan Green Skills dalam Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan
Penulis: Dani Fauzi
Reviewer dan Editor: Wiwik Mahdayani
CNN Travel telah menempatkan Pulau Sumba, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, sebagai peringkat pertama destinasi terbaik untuk dikunjungi tahun 2024. Time-Out Asia juga telah menobatkan Pulau Sumba sebagai destinasi terbaik untuk dikunjungi di Asia tahun 2025.
Meskipun belum sepopuler pulau-pulau tetangganya, Sumba memiliki sumber daya eksisting yang kuat. Dengan desa-desa eksotis seperti Kampung Adat Prai Ijing, Desa Adat Ratenggaro, wisata alam seperti Air Terjun Waikelo Sawah, Air Terjun Tanggedu, Bukit Waerinding, Bukit Hiliwuku, Pantai Walakiri, Pantai Watuparunu, dan masih banyak lagi.
Sumber: Elaborasi berbagai Sumber Media (2025)
Tak hanya itu, Pulau Sumba juga terkenal dengan lanskap padang rumput, bukit batu kapur, dan berbagai satwa liar endemiknya. Sumba juga memiliki hutan yang masih alami. Di Taman Nasional Matawala, dengan luas sekitar 92 ribu hektar, mempunyai keanekaragaman hayati berupa 375 jenis tumbuhan, 28 jenis mamalia, 30 jenis reptile, 6 jenis amfibi, 41 jenis capung, 94 jenis kupu-kupu, dan 159 jenis burung. Ditambah 129 gua dan puncak Wanggameti.
Dengan ombak selancar kelas dunia, Sumba menawarkan pengalaman yang berbeda dari keramaian Bali. Termasuk keberagaman akomodasi yang mencerminkan segmentasi pasar yang luas. Selain resor mewah berstandar internasional seperti NIHI Sumba, The Sanubari, dan Cap Karoso yang menargetkan pasar wisatawan internasional, Sumba juga menyediakan pilihan akomodasi yang mendukung kegiatan MICE, homestay berbasis komunitas di desa wisata, adventure resort, campground, serta eco-lodge yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Kehadiran berbagai jenis akomodasi ini mencerminkan kemampuan Sumba untuk menjangkau pasar wisata yang beragam.
Sumber Foto: Dokumentasi DESMA Center
Pulau ini juga memiliki sistem kepercayaan Marapu. Marapu adalah kepercayaan tradisional masyarakat Sumba yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur, dengan ritual-ritual sakral yang diwariskan turun-temurun dan tetap lestari hingga kini. Sumba juga terkenal dengan kain tenun khas dan Festival Pasola (tradisi perang adat yang melibatkan penunggang kuda saling melempar tombak kayu). Pulau ini mulai menarik perhatian sebagai tujuan wisata yang masih alami dan otentik.
Sumba dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan yang kompleks—sebagai contoh, Kab. Sumba Barat Daya mengalami keterbatasan infrastruktur dasar, akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, tingginya tingkat kemiskinan, serta ketergantungan pada sektor pertanian berproduktivitas rendah (BPS Sumba Barat Daya, 2025). Dalam konteks ini, bangkitnya sektor pariwisata menjadi penting bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk mendorong transformasi sosial dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Sumber: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (2025); PosKupang Travel (2020)
Kunjungan wisatawan ke Sumba pada 2024 melonjak tajam dibanding 2019, jadi bukti nyata bagaimana daerah ini bangkit setelah pandemi. Perbandingan antara tahun 2019 dengan 2024 menunjukan wisatawan mancanegara meningkat 121.4%, sementara angka kunjungan wisatawan nusantara meningkat 66,3%. Data ini tidak hanya soal angka, tapi soal bagaimana Sumba semakin dilirik sebagai destinasi pariwisata dengan ciri khas yang kuat.
Peningkatan kunjungan wisatawan ke Pulau Sumba bukan sekadar indikator kebangkitan pariwisata pasca-pandemi, tetapi juga sinyal urgensi pengelolaan pertumbuhan ini secara cermat dan berkelanjutan. Ketika daya tarik utama Sumba terletak pada ekosistem alami dan kearifan lokal yang belum terkomodifikasi secara masif, pertumbuhan tanpa kendali justru dapat menjadi ancaman bagi daya dukung lingkungan dan integritas budaya. Pengembangan pariwisata berkelanjutan yang inklusif di Pulau Sumba sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat lokal dengan melestarikan budaya dan lingkungan (Wisnawa, 2024).
Lonjakan pariwisata di Sumba menuntut percepatan green transition sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis pelestarian. Transisi ini menjadi pintu masuk menuju green economy, di mana sektor-sektor utama seperti pariwisata dan pertanian dikelola dengan prinsip keberlanjutan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan green skills—keterampilan yang memungkinkan tenaga kerja lokal terlibat aktif dalam perlindungan lingkungan dan efisiensi sumber daya. Green skills sangat penting untuk untuk keterampilan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan di sektor pariwisata, mencakup proses manajemen, perencanaan, tindakan, dan pemantauan implementasi serta peningkatan kinerja (Mari Renfors, 2024). Ketersediaan green skills inilah yang membuka peluang terciptanya green jobs, seperti pemandu wisata berkelanjutan hingga perencana pengembangan pariwisata dan manajer hotel berkelanjutan, yang menekankan pentingnya keahlian spesifik untuk mendukung transisi hijau di industri jasa pariwisata. Dengan demikian, penguatan kapasitas SDM di Sumba menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Sumba selaras dengan pelestarian alam dan budaya yang menjadi keunggulannya.
Transformasi ekonomi ditetapkan sebagai salah satu agenda utama Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, dengan penerapan ekonomi hijau menjadi salah satu arah atau tujuan kunci dari agenda pembangunan tersebut. Implementasi agenda RPJPN di wilayah Pulau Sumba bukan hanya soal mengikuti arah kebijakan nasional, tetapi merupakan kebutuhan riil untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan atau hilangnya warisan budaya. Oleh karena itu, investasi pada pengembangan kapasitas SDM lokal melalui pendidikan, pelatihan vokasi, dan skema pendampingan berbasis green skills sangat mendesak agar masyarakat Sumba dapat berperan sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat dalam transformasi hijau yang sedang berlangsung.
Sebagai bagian dari strategi pembangunan SDM yang berorientasi pada keberlanjutan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki peran strategis sebagai tahap awal menyiapkan tenaga kerja berkualitas yang siap memasuki ekosistem green jobs, termasuk bidang pariwisata. Peran ini dijalankan melalui kurikulum yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan masa depan, serta praktik kerja industri pariwisata yang nyata di lapangan. Secara khusus, penguatan keterampilan berkelanjutan terkait pariwisata di SMK dapat mencakup:
- Efisiensi energi dalam operasional pariwisata;
- Pengelolaan limbah secara mandiri dan ramah lingkungan pada daya tarik wisata atau lingkungan operasional industri pariwisata;
- Konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati sebagai sumber daya bidang pariwisata
- Pemahaman prinsip keberlanjutan secara menyeluruh;
- Pelayanan wisata berbasis budaya dan ekologi;
- Kemampuan teknis bidang perhotelan dan perjalanan.
Inisiatif ini semakin efektif bila diperkuat melalui kemitraan antara SMK, pelaku industri ramah lingkungan, dan lembaga pelatihan vokasi. Dengan pendekatan ini, SMK tidak hanya mencetak lulusan siap kerja dan mampu berwirausaha, tetapi juga menjadi aktor kunci dalam membentuk generasi baru pelaku green economy yang relevan dan kontekstual di Sumba.
Tipologi green skills sebagaimana digambarkan dalam infografis ini mencerminkan pendekatan bertingkat terhadap pembangunan kompetensi berkelanjutan, yang berakar pada pembentukan green mindset hingga pada penguasaan keterampilan spesifik untuk okupasi baru (Pahlova, 2017). Pendekatan ini sejalan dengan kerangka konseptual pembangunan SDM berbasis ekonomi hijau, yang tidak hanya menekankan penguasaan teknologi dan konteks lingkungan, tetapi juga transformasi nilai dan orientasi berpikir dalam sudut pandang dunia kerja. Dalam konteks pendidikan vokasi, struktur berjenjang ini menjadi panduan strategis untuk menyusun kurikulum dan program pelatihan yang adaptif terhadap dinamika pasar tenaga kerja hijau, sekaligus memperkuat integrasi antara pengembangan kapasitas individu dan kebutuhan transisi yang sistematis menuju keberlanjutan.
Diagram irisan di atas menggambarkan keterkaitan erat antara nilai-nilai kepercayaan Marapu, green skills, dan prinsip pariwisata berkelanjutan di Sumba. Nilai-nilai dalam Marapu yang menekankan keterhubungan antara manusia, alam, dan leluhur memiliki irisan logis dengan prinsip dasar keberlanjutan, sementara green skills menjadi jembatan praktis untuk mewujudkannya dalam sektor pariwisata. Integrasi ketiganya menciptakan fondasi yang kuat bagi pembangunan pariwisata Sumba yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga autentik secara budaya.
Pulau Sumba memiliki potensi maupun peluang strategis untuk menjadi model pembangunan berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan ekologis di tingkat nasional, namun hal ini menuntut investasi serius pada pendidikan vokasi berbasis green skills. DESMA Center, melalui program TVET for Sustainable Development in Sumba yang didanai oleh MIZEREOR/KZE, berupaya menjawab kebutuhan industri pariwisata berkelanjutan dengan memperkuat kapasitas SMK dan membuka akses kerja layak bagi generasi muda. Berbagai inisatif program kepada manajemen sekolah, guru maupun siswa SMK seperti Workshop SMK Menuju Sekolah Hijau, Kampanye Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Iklim, Edutainment Pemanfaatan Media Digital untuk Peningkatan Kompetensi Hijau, Kampanye Penyadartahuan Lingkungan “Gunakan Air Secara Bijak”, hingga Workshop penulisan Artikel Digital untuk Pariwisata Berkelanjutan, menjadi bagian dari upaya mendukung transisi dan akselerasi green skills di tanah Marapu.
Referensi:
BPS Sumba Barat Daya. (2025). Kabupaten Sumba Barat Daya dalam Angka 2025. Sumba Barat Daya: BPS SBD.
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). (2023). Peta Okupasi Nasional Green Jobs: Buku 1. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Hastutik, A, D. (2022, 31 Desember). Festival “Empat Gunung”: Menghidupkan Spiritualitas Marapu di Tanah Humba. WALHI. https://www.walhi.or.id/festival-empat-gunung-menghidupkan-spiritualitas-marapu-di-tanah-humba
Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025-2029.
Pavlova, M. (2017). Green Skills as the Agenda for The Competence Movement in Vocational and Professional Education. In M. Mulder (Ed.), Competence-based Vocational and Professional Education: Bridging the Worlds of Work and Education (pp. 931-951). Cham: Springer International Publishing.
Renfors, S, M. (2024). Supporting Green Transition in the Finnish Tourism Sector by Identifying Green Skills. European Journal of Tourism Research, 36, 3612.
Solas Learning Works. (2024). Green Skills 2030. Dublin: Government of Ireland.
Wisnawa, I Made Bayu. (2024). Sustainable Tourism Development Strategy on Sumba Island: Utilising Cultural and Natural Resources for Local Economic Resilience. Bali Journal of Hospitality, Tourism and Culture Research, Vol. II No. 1.
Wisuda, A. (2019, 29 Oktober). Matalawa, Taman Nasional di Tanah Marapu Sumba [3]. Monagabay. https://mongabay.co.id/2019/10/29/matalawa-taman-nasional-di-tanah-marapu-sumba-3/.
