Menciptakan Lingkungan Belajar Pariwisata yang Aman dan Inklusif

Penulis: Adrianus Ubas, Programme Officer Field Office Sumba 

Editor: Firra Kholisha Mustika, Senior Communication

 

Sumba dikenal dengan keindahan alamnya yang memesona. Danau Wee kuri, perbukitan hijau di Bukit Wairinding, Kampung Ratenggaro dan Kampung Prai Ijing yang menyajikan kekayaan budaya yang autentik, persawahan hijau di Waekelo, menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Sumber daya pariwisata yang besar ini tidak hanya bertumpu pada keindahan alam dan budaya saja. Kunci utama untuk mengembangkan sektor pariwisata secara berkelanjutan salah satunya adalah melalui pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya generasi muda Sumba.

Untuk membentuk generasi pariwisata yang berprestasi, berempati, dan profesional, dibutuhkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung. Lingkungan yang bebas dari perundungan, kekerasan, dan pelecehan menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim pendidikan yang sehat. Ketika siswa merasa dihargai dan dilindungi, mereka akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri, terbuka terhadap perbedaan, serta pada akhirnya mampu memberikan pelayanan dan produk wisata yang berkualitas.

Guna mendukung lingkungan belajar pariwisata yang bebas dari perundungan, kekerasan, dan pelecehan terhadap siswa, DESMA Center menyelenggarakan Kampanye Anti Perundungan pada 25 April 2025 di Aula SMKN 1 Waikabubak, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Turut hadir 102 siswa yang berasal dari SMKN 1 Waikabubak, SMKN 2 Lamboya, SMA Swasta Karanu, SMA Katolik Sint Pieter, SMAN 1 Waikabubak, SMA Kristen Waikabubak, SMKN 2 Loli, dan SMA Swasta Weekarou.

"Ketika siswa merasa nyaman dan terlindungi, mereka bisa berkontribusi lebih baik untuk masyarakat, termasuk dalam memajukan pariwisata," ujar Bapak Boyke Hutapea, Program Manager Field Office Sumba DESMA Center.

 

Ibu Adriana M.D. Ngongo, S.Pd., Koordinator Pengawas (Korwas) SMA/SMK/SLB Sumba Barat Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi NTT memaparkan pentingnya sekolah berperan memberikan ruang kepada siswa untuk dapat bercerita jika mengalami kekerasan fisik dan seksual baik di rumah maupun di sekolah. Ibu Pupu Purwaningsih, Koordinator Lokal untuk Misereor dan Kindermissionswerk (KMW) di Indonesia menyampaikan 4 pilar hak pemuda untuk dirinya yaitu hak untuk hidup, hak atas tumbuh kembang, hak berpartisipasi dan hak atas perlindungan.

Kampanye juga diisi dengan diskusi interaktif yang mendorong peserta merumuskan langkah konkret pencegahan perundungan, kekerasan, dan pelecehan, baik sebagai individu maupun institusi. Melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, serta aktivitas reflektif, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai bagaimana mengidentifikasi Perundungan, Kekerasan dan Pelecehan, melakukan pencegahan, dampak yang akan timbul , dan memetakan solusi berbasis komunitas.

Kegiatan ini merupakan komitmen DESMA Center untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang memiliki toleransi antar sesama, unggul dan berdaya saing untuk mewujudkan pariwisata yang lebih baik.

_______

Program Safe Leaning merupakan bagian dari Program TVET for Sustainable Tourism Development in Sumba didukung oleh MISEREOR/KZE dan Kindermissionswerk (KMW); diimplementasi oleh DESMA Center. Program sekolah ramah anak remaja bertujuan untuk mencegah perundungan, kekerasan dan pelecehan di lingkungan sekolah; sehingga kaum muda dapat menghargai perbedaan antar sesama dan mewujudkan pariwisata yang lebih baik.

Program ini meliputi penguatan (1) kapasitas manajemen sekolah terkait pentingnya perlindungan anak remaja di sekolah yang sejalan dengan Permendikburistek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP); (2) Kapasitas Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah berjalan secara aktif dan (3) kemitraan SMK Pariwisata, pemerintah, lembaga nirlaba, komunitas, dan pemangku kepentingan.

 

Penerima manfaat langsung program ini adalah (1) SMK Pancasila – Tambolaka, Sumba Barat Daya; (2) SMK Negeri 2 Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya; (3) SMK Bakti Luhur – Tambolaka, Sumba Barat Daya; (4) SMK Efata - Omba Rade, Sumba Barat Daya; dan (5) SMK Negeri 1 Waikabubak, Sumba Barat. Mitra langsung program ini adalah (1) Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur; (2) Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya; (3) Pemerintah Kabupaten Sumba Barat; (4) Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya; dan (5) Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat.