Membangun Arah Baru Pariwisata Melalui Industri Event
Penulis: Dani Fauzi | Programme Officer
Reviewer dan Editor: Wiwik Mahdayani
Desain Grafis: Ganyos Paryama Sidik
Di tengah dinamika ekonomi global, industri event Indonesia justru menunjukkan geliat optimisme yang mengesankan. Data terbaru dari EGO (2025) mencatat bahwa pada tahun 2024, industri event nasional mencatatkan rata-rata 8.777 event dengan pendapatan kotor mencapai Rp 84,46 triliun atau sekitar USD 5,23 miliar. Lebih dari 8,76 juta tenaga kerja terlibat langsung, mewakili 35,7% dari total pekerja ekonomi kreatif jika diasumsikan sebanyak 25 juta orang. Proyeksi untuk tahun 2025 pun semakin optimis, dengan pertumbuhan pendapatan diperkirakan naik 4,92% menjadi Rp 88,62 triliun (USD 5,87 miliar) dan rata-rata event meningkat menjadi 9.209. Di balik angka-angka ini, tersirat sebuah narasi besar: bahwa industri event Indonesia bukan sekadar pulih pasca pandemi, namun bersiap menempuh jalur akselerasi menuju panggung global, dengan proyeksi pasar yang akan menembus USD 7,41 miliar pada 2032.
Dengan laju pertumbuhan industri event nasional, peran event daerah menjadi krusial sebagai penggerak akar ekonomi kreatif sekaligus penjaga kekayaan budaya lokal. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi langsung melalui peningkatan kunjungan wisatawan, perputaran usaha mikro, serta penciptaan lapangan kerja di tingkat lokal. Sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (saat ini Kementerian Pariwisata) pada tahun 2024 telah menetapkan 110 event unggulan yang tersebar di 38 provinsi—sebuah langkah terkurasi secara ketat untuk memastikan bahwa setiap event yang didukung benar-benar memiliki nilai strategis, baik dari sisi budaya, ekonomi, maupun potensi pengembangan destinasi. Ini menandai komitmen serius bahwa geliat industri event Indonesia dibangun melalui pendekatan bottom-to-top, dengan fondasi kearifan lokal yang kuat dan relevansi nasional yang semakin nyata.
Sumber: Elaborasi berbagai Sumber Media (2025)
Dari barat hingga timur nusantara, berbagai kota menggelar perhelatan unik yang memperkuat identitas lokal sekaligus menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara. Beberapa event daerah yang masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara 2024 diantaranya adalah:
Rangkaian event ini bukan hanya menegaskan keberagaman Indonesia, tapi juga memperlihatkan bagaimana pariwisata berbasis event menjadi salah satu pilar strategis dalam pengembangan ekonomi nasional.
Penting untuk dipahami, industri event tidak berdiri sendiri. Ia adalah sistem yang kompleks dan saling terkait, —yang mencakup enam komponen utama: Kebijakan, Industri Pendukung, Sumber Daya, Pasar, Marketing, dan Demand. Industri event bukan hanya soal panggung dan penonton, namun titik temu antara kreativitas, infrastruktur, regulasi, dan peluang pasar yang dikelola secara strategis.
Enam komponen utama pengembangan industri event mencerminkan ekosistem yang saling terhubung dan strategis. Dimulai dari Kebijakan yang menjadi fondasi regulasi dan dukungan lokal, diikuti oleh Industri Pendukung yang mencakup infrastruktur dan layanan logistik penting seperti akomodasi, transportasi, hingga keamanan. Sumber Daya menekankan pentingnya SDM kreatif & profesional, investasi, dan riset untuk kualitas event. Dari sisi Market, cakupannya luas—wisatawan domestik, mancanegara, hingga pelaku MICE. Komponen Marketing yang memainkan peran kunci dalam promosi digital dan branding destinasi, sementara Demand menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan kebutuhan pasar dan peluang bagi penyelenggaraan event yang berkelanjutan dan berdampak luas.
Penerapan prinsip keberlanjutan dalam industri event Indonesia juga penting untuk diterapkan, yang berlandaskan pada pendekatan 3Ps (People, Profit, Planet) yang dapat dijadikan fondasi utama dalam perumusan kebijakan dan praktik operasional. Dari aspek People, keterlibatan 8,76 juta tenaga kerja industri event di tahun 2024 perlu dikendarai oleh penguatan kapasitas SDM, pemberdayaan komunitas lokal & UMKM, inklusivitas bagi kelompok rentan, dan keselamatan kerja yang terpadu. Pada aspek Planet, industri event perlu menyelaraskan penerapan standar event sustainability management systems, pengurangan limbah, efisiensi energi, dan pengelolaan emisi karbon untuk meminimalisir dampak ekologis event misalnya dengan menerapkan standar ISO 20121:2024. Sementara pada aspek Profit, pertumbuhan pendapatan Rp88,6 triliun dari 8.777 event tahun 2024 perlu didukung oleh diversifikasi pembiayaan, pemanfaatan teknologi digital, dan penguatan ekonomi lokal berbasis IP event, hingga evaluasi berbasis data.
Kendati tren pertumbuhan terlihat menjanjikan, industri event Indonesia tetap memiliki tantangan khususnya bagi para pelaku industrinya. Tahun 2025 dibayangi tiga tantangan krusial yang menggerus efisiensi pelaku industri: lonjakan biaya produksi, pemotongan anggaran kegiatan, serta kenaikan PPN 12% yang menggerus daya beli dan fleksibilitas penyelenggara. Dengan sekitar 70% pembiayaan event yang masih bergantung pada dukungan pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kebijakan efisiensi anggaran perlu disertai langkah-langkah mitigasi yang tepat agar tidak secara langsung menghambat peran strategis industri event dalam menggerakkan ekonomi kreatif daerah.
Tantangan struktural di berbagai kota menunjukkan bahwa pertumbuhan industri event belum merata. Hampir semua kota utama menghadapi kekurangan SDM profesional, dengan tantangan spesifik seperti minimnya insentif di Jakarta, infrastruktur dan promosi di Bandung, konektivitas dan koordinasi di Yogyakarta, reputasi rendah di Surabaya, hingga isu keberlanjutan di Denpasar. Kondisi ini menuntut pendekatan kebijakan yang lebih lokal, solutif, dan berbasis karakteristik masing-masing kota agar strategi pengembangan industri event menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
.png)
DESMA Center bersama dengan Asisten Deputi Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kementerian Pariwisata, tahun 2025 ini menyusun “Peta Jalan Pengembangan Industri Event Pariwisata Indonesia” sebagai kerangka strategis nasional. Inisiatif ini bertujuan menjawab berbagai tantangan struktural dan mendorong pertumbuhan event berbasis budaya dan ekonomi kreatif melalui kebijakan yang lebih terarah, terukur, dan adaptif terhadap dinamika industri di tingkat lokal maupun nasional. Penyusunan peta jalan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program unggulan Kementerian Pariwisata, yaitu pengembangan event bertaraf global dengan kekuatan Intellectual Property (IP) Indonesia, yang diharapkan mampu memperkuat daya saing, keberlanjutan, dan nilai tambah event nasional di kancah internasional.
