Antara Berkelanjutan dan Regeneratif: Paradigma Baru Pengembangan Pariwisata

Penulis: Dani Fauzi, Programme Officer

Reviewer dan Editor: Wiwik Mahdayani
Desain Grafis: Ganyos Paryama Sidik

 

Memasuki tahun 2025, menarik untuk disimak bagaimana tren industri pariwisata akan berkembang. Industri pariwisata adalah industri multisektor yang  sangat dinamis karena dipengaruhi oleh perubahan tren dan perilaku konsumen, teknologi, kebutuhan wisatawan,  serta faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih luas.

Perubahan tren dalam industri pariwisata terus mendorong adaptasi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Tekanan pra-Covid dari overtourism, pandemi, perubahan iklim, dan banyak krisis sosio-ekonomi lainnya telah mendorong para profesional dan cendekiawan pariwisata untuk mencari model yang berbeda, paradigma yang berbeda, dan solusi baru (Ateljevic & Sheldon, 2022).

 

 

Merujuk pada penelitian Duarte et al. (2024) berjudul “Advancing Global Climate and Biodiversity Goals Through Regenerative Tourism”, Pariwisata regeneratif menawarkan paradigma transformatif untuk mengatasi tantangan keberlanjutan global dengan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui energi terbarukan dan praktik-praktik berkelanjutan, memulihkan keanekaragaman hayati melalui regenerasi ekosistem dan keterlibatan masyarakat, dan memajukan Sustainable Development Goals (SDGs) dengan berbagai inisiatif yang mendukung pengentasan kemiskinan, konsumsi yang bertanggung jawab, dan kemitraan yang adil, yang pada akhirnya menciptakan dampak positif bagi manusia dan planet.

Juni 2024 lalu, dalam forum International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020-2024 Sandiaga Uno menyatakan bahwa 3 miliar investasi pariwisata masih terpaku pada hotel konvensional, yang mana ini tak sejalan dengan pengembangan kepariwisataan Indonesia yang berfokus pada konsep pariwisata hijau yang regeneratif - konsep wisata yang tidak sekadar memanfaatkan, melainkan memulihkan lingkungan dan memberdayakan komunitas lokal (Kemenparekraf RI, 2024). Lalu apa sebenarnya regenative tourism?

Konsep regenerative tourism mulai dikenal pada saat pandemi COVID-19 melanda dunia 2020 lalu. Pandemi mengungkap ketidakberlanjutan pariwisata, pembatasan perjalanan memang menghentikan sebagian besar aktivitas pariwisata, tetapi hal ini justru menyoroti ketergantungan pariwisata pada model konvensional yang mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Hal ini cukup mendesak untuk memformulasikan model pariwisata yang memprioritaskan aspek ekologis, lebih inklusif, dan tidak hanya berfokus pada prioritas ekonomi.

Lantas apa perbedaan regenerative tourism dengan sustainable tourism yang lebih dahulu kita dengar?

 

 

Gambaran di atas membandingkan konsep sustainable tourism dan regenerative tourism dari perspektif global, menyoroti pergeseran paradigma dalam pendekatan pariwisata. Sustainable tourism menurut UNWTO (2013) menekankan perlunya menyeimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak tanpa merusak sumber daya kini dan masa depan.

Sedangkan, menurut Ministry of Business, Innovation and Employment, New Zealand, regenerative tourism adalah pendekatan pariwisata yang bertujuan memberikan dampak positif yang lebih besar kepada masyarakat dan lingkungan dengan memperkaya komunitas, melindungi serta memulihkan lingkungan, dan melampaui nilai ekonomi semata untuk menciptakan manfaat berkelanjutan.

 

 

Konsep pariwisata regeneratif kerap dipandang sebagai solusi sekaligus bentuk akselerasi terhadap pendekatan pariwisata berkelanjutan. Pemerintah New Zealand menunjukkan keseriusan dalam pariwisata regeneratif melalui strategi terintegrasi yang mencakup pendanaan berkelanjutan, pengelolaan destinasi kolaboratif, peningkatan data dan wawasan, serta rencana aksi untuk tenaga kerja dan lingkungan, guna memastikan pariwisata memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat, budaya, dan lingkungan (OECD, 2024).

Perlunya perubahan paradigma pengembangan pariwisata di Indonesia, dari pendekatan berkelanjutan menuju konsep regeneratif yang lebih inklusif, dengan menempatkan nilai-nilai lokal dan tanggung jawab terhadap dampak lingkungan sebagai prioritas utama (Sandang, 2023).

 

 

Contoh regenerative tourism plan yang tercermin pada tabel di atas disusun oleh Queenstown Lakes Destination Management Steering Group, salah satu Destination Management Organization di New Zealand, melalui strategi "Travel to a Thriving Future" yang  bertujuan mencapai regenerative tourism di Queenstown Lakes pada tahun 2030 dengan tiga pilar utama: memperkaya komunitas dan pengalaman , memulihkan lingkungan melalui dekarbonisasi, serta membangun ketahanan ekonomi dan kapabilitas tenaga kerja (QLDC, 2023).

Konsep regenerative tourism bukan tanpa pertentanggan, istilah ini kerap dianggap kurang jelas karena belum memiliki kerangka implementasi yang terstruktur. Banyak gagasan dalam pariwisata regeneratif sebenarnya telah tercakup dalam prinsip-prinsip sustainable tourism, meskipun diungkapkan dengan terminologi yang berbeda (GSTC, 2024). 

 

Anggapan bahwa regenerative tourism merupakan "alternatif yang lebih baik" sering kali mengesampingkan cakupan luas yang sudah dimiliki oleh sustainable tourism itu sendiri.

 

Sharma & Tham (2023) menambahkan, banyak penelitian terkait regenerative tourism berbasis studi kasus atau ulasan kritis, namun bukti empirisnya masih terbatas; sehingga ada kebutuhan untuk mengembangkan model yang dapat mengatasi ketidakpastian global dan memperkuat ketahanan destinasi.

Memahami pendekatan regenerative tourism tidak berarti mengesampingkan pentingnya sustainable tourism, tetapi justru melengkapinya. Jika keberlanjutan adalah tentang optimalisasi dan maksimalisasi, maka gerakan regeneratif berbicara tentang tumbuh dan berkembang (STaRT, 2024). Sustainable tourism telah memberikan landasan yang kokoh dengan menekankan pada pengurangan dampak negatif dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab. Regenerative tourism menawarkan visi yang transformatif dengan fokus pada pemulihan dan peningkatan ekosistem, komunitas, dan budaya lokal.

Dengan memadukan kedua pendekatan tersebut, industri ini dapat menciptakan sistem yang tidak hanya mempertahankan keseimbangan, tetapi juga mendorong peningkatan berkelanjutan yang berlandaskan pada kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan pariwisata yang tidak hanya berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan, tetapi juga mewujudkan potensi regeneratif dalam setiap destinasi. 

 

References:

Ateljevic, I., & Sheldon, P. J. (2022). Guest editorial: Transformation and the Regenerative Future of Tourism. Journal of Tourism Futures, Vol. 8 No. 3, pp. 266-268. DOI: 10.1108/JTF-09-2022-284.

Bellato, L., Frantzeskaki, N., & Nygaard, C. A. (2022). Regenerative Tourism: a Conceptual Framework Leveraging Theory and Practice. Tourism Geographies, Volume 25, 2023 - Issue 4. DOI: 10.1080/14616688.2022.2044376.

BPS. (2023, November 30). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2023. Retrieved from Badan Pusat Statistik: https://www.bps.go.id/id/publication/2023/11/30/d3456ff24f1d2f2cfd0ccbb0/statistik-lingkungan-hidup-indonesia-2023.html

Duarte, C. M., Cousins, R., Ficociello, M. A., Williams, I. D., & Khowala, A. (2024). Advancing Global Climate and Biodiversity Goals Through Regenerative Tourism. Sustainability, 16(20), 9133. DOI: 10.3390/su16209133.

GSTC. (2024, September 25). The Difference Between Regenerative Tourism and Sustainable Tourism. Retrieved from Global Sustainable Tourism Council: https://www.gstcouncil.org/regenerative-tourism/

Kemenparekraf RI. (2024, Juni 5). Siaran Pers: Menparekraf Dorong Lebih Banyak Investasi pada Pariwisata Berkelanjutan. Retrieved from Kemenparekraf RI: https://www.kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-menparekraf-dorong-lebih-banyak-investasi-pada-pariwisata-berkelanjutan

OECD. (2024). OECD Tourism Trends and Policies 2024. Paris: OECD Publishing.

Queenstown Lakes District Council. (2024). Travel to a Thriving Future. Queenstown: QLDC.

Sandang, Y. (2023, October 15). Alih-Alih Pariwisata Berkelanjutan, Indonesia Memerlukan Pariwisata Regeneratif. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2023/10/15/alih-alih-pariwisata-berkelanjutan-indonesia-memerlukan-pariwisata-regeneratif/?utm_source=chatgpt.com

Sharma, B., & Tham, A. (2023). Regenerative Tourism: Opportunities and Challenges. Journal of Responsible Tourism Management, 3 (1). DOI: 10.47263/JRTM.03-01-02.

STaRT. (2024, November 12). Sustainable Tourism and Responsible Tourism. Retrieved from What’s the difference between sustainable tourism and regenerative tourism?: https://sustainabletourismandresponsibletravel.com/whats-the-difference-between-sustainable-tourism-and-regenerative-tourism/

UNWTO. (2013). Sustainable Tourism for Development Guidebook. Madrid: UNWTO.