Pengembangan Roadmap dalam Mendukung Inclusive Business pada Sektor Wellness Tourism di Indonesia - Kick Off Meeting

“Inclusive business is not social responsibility, philanthropy, or sustainability but a new way for companies to achieve economic success.”

Indonesia adalah pasar terbesar kedua untuk sektor Wellness Tourism di Asia Tenggara setelah Thailand, dengan 1,3 juta penyerapan tenaga kerja langsung dan pengeluaran senilai 6,9 miliar USD pada tahun 2017 serta tingkat pertumbuhan sebesar 21,5% per tahun dari 2015-2017 (Global Wellness Institute, 2018). Berdasarkan hal tersebut, wellness tourism dipilih sebagai sektor terkait bisnis inklusif yang akan dikembangkan di Indonesia.   

United Nation ESCAP bersama dengan 5 Kementerian Indonesia berencana membuat roadmap mengenai Inclusive Business pada sektor Wellness Tourism di Indonesia. Dalam pembuatan dokumen baseline untuk pengembangan roadmap tersebut, terdapat 2 konsultan yang terlibat; Endeva, International konsultan terkait inclusive Business berbasis di Berlin, Jerman dan DESMA Center, Indonesia konsultan terkait pariwisata berkelanjutan berbasis di Jakarta, Indonesia.  

Kegiatan ini dimulai dengan Kick Off meeting yang diadakan pada tanggal 24 Oktober 2019. Dalam Kick Off Meeting, DESMA Center dan Endeva menjelaskan mengenai workplan dalam membuat baseline dokumen roadmap Inclusive Business pada sektor Wellness Tourism di Indonesia: dimulai dari tahap Inception mengenai persiapan dari metode penelitian yang akan dipakai, dan identifikasi stakeholders terkait dan relevan dengan Inclusive Business.

Selanjutnya dilanjutkan dengan tahap Fact Finding yang mengambil lokasi di Jakarta dan Bali. Pada tahap ini, kedua konsultan akan melakukan diskusi dan konsultasi untuk mendapatkan masukan dari pihak pemerintah, akademisi, pemilik hotel serta resorts terkait wellness dan pihak asosiasi bisnis pariwisata.  

Assessment pada tahap Fact Finding dilakukan pada 2 lokasi, Jakarta dan Bali. Assessment dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2019 – 2 November 2019 dan berhasil mendapatkan input dari 9 stakeholders Jakarta dan 15 stakeholders Bali.