Pariwisata dan Perubahan Iklim

Sejak beberapa tahun terakhir kegiatan pariwisata sudah menjadi tren bagi masyarakat. Masyarakat rela menyisihkan uang untuk melakukan kegiatan wisata di akhir pekan baik sendiri, bersama teman atau keluarga. Namun, sudah satu tahun kita dihadapi dengan pembatasan aktivitas akibat adanya pandemi covid19.

 

Kegiatan pariwisata merupakan salah satu sektor yang terkena dampak besar. Pariwisata merupakan aktivitas yang melibatkan berbagai sektor industri. Banyaknya sektor yang terlibat membuat pariwisata komplek, selain mendatangkan dampak positif tentunya juga ada dampak negatif.

 

Pariwisata Indonesia

Indonesia merupakan negara tropis dan negara kepulauan, sehingga rentan terhadap perubahan iklim. Kecenderungan perubahan iklim di Indonesia disebabkan oleh aktivitas manusia (seperti urbanisasi, deforestasi, industrialisasi) dan aktivitas alam (seperti pergeseran kontinen, letusan gunung berapi, perubahan orbit bumi terhadap matahari, noda matahari dan El- Nino).

 

Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor penyumbang ekonomi. Pada tahun 2019 realisasi devisa dari sektor pariwisata mencapai Rp280 triliun, meningkat dari capaian 2018 yaitu Rp270 triliun.

 

Pariwisata merupakan industri yang bersifat multisektor, tidak dapat berdiri sendiri sehingga membutuhkan kolaborasi dengan sektor lain. Untuk dikatakan sebagai destinasi wisata perlu adanya beberapa hal yang dipenuhi seperti atraksi, amenitas, aksesibilitas dan akomodasi. Atraksi wisata yang ditawarkan berasal dari alam, budaya dan buatan.

 

Kondisi alam tidak dapat diprediksi, sehingga industri  pariwisata sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Hal ini berkaitan dengan keputusan wisatawan untuk memilih destinasi tujuan wisata. Faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut antara lain; geografis, topografi, lanskap, vegetasi, fauna dan iklim.

 

Perubahan iklim yang ekstrem dapat memberikan dampak negatif, seperti semakin panjangnya bulan kering dan basah, kenaikan temperatur permukaan laut, perubahan pola dan intensitas curah hujan, dan meningkatnya bencana hidrometeorologi, akan berdampak secara luas terhadap aspek kehidupan masyarakat dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit pada sektor ekonomi dan juga target pembangunan lainnya, seperti ketahanan pangan, pembangunan bidang kesehatan, infrastruktur, dan ekosistem.

 

Pariwisata ikut menjadi penyumbang perubahan iklim

Sektor pariwisata dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian negara, namun banyaknya turis yang berkunjung juga menyebabkan adanya dampak negatif. Pada tahun 2005 tercatat bahwa kontribusi sektor pariwisata dalam menyumbangkan emisi CO2 sebesar 5% dan transportasi menjadi komponen terbesar dalam menyumbang gas emisi rumah kaca yaitu sebesar 75% (The United Nations World Tourism Organization & International Transport Forum, 2019).

 

Industri perjalanan udara berkontribusi antara 2-3% dari seluruh emisi CO2 global. Upaya yang dapat dilakukan untuk penurunan emisi gas rumah kaca yaitu mitigasi dan adaptasi. Dengan tujuan meminimalisir efek gas rumah kaca dan penyesuaian terhadap perubahan iklim yang disebabkan oleh pariwisata.

 

Ekowisata sebagai upaya meminimalisir dampak perubahan iklim

Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab terhadap alam. Mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

 

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan salah satunya dengan penanaman mangrove, berfungsi meminimalisir dampak bencana alam, seperti tsunami, badai dan gelombang. Diperkirakan 3,14 milyar tons karbon biru tersimpan di dalam hutan mangrove Indonesia (Murdiyarso et al dalam Sidik).

 

Penanaman mangrove juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dan penelitian, kemudian adanya kegiatan pariwisata akan menumbuhkan perekonomian masyarakat lokal (sebagai pemandu wisata, pengewaan homestay, rumah makan dan UMKM).

 

 

Sumber :

Julismin. 2013. Dampak Dan Perubahan Iklim Di Indonesia. Jurnal Geografi.

Matzarakis,  A.  2006.  Weather-and climate-related  information  for tourism. Tourism  and  Hospitality Planning  &  Development, 3(2),  99- 115. 

Handayani, Mery dan Kurniawan, Didi. 2020. Devisa Negara Dari Pariwisata Turun 97 Persen Akibat Pandemi Covid19.