Optimisme Daya Serap Industri Sumba: Pelaksanaan Bursa Kerja dan Expo Kemitraan di Sumba
Penulis: Agustina Purnami Setiawi, Programme Officer Field Office Sumba
Editor: Siti Nur Hasbiyana, Program Associate and Outreach
Pasar kerja saat ini mengalami tantangan berupa ketatnya kompetisi antar calon pekerja lulusan SMA/K sampai sarjana. Di tengah rendahnya daya serap industri, Sumba menunjukkan optimisme untuk meningkatkan daya serap angkatan kerjanya.
DESMA Center bersama dengan mitra internasionalnya, Misereor dan KMW–kindermissionwerk, bekerja sama dengan institusi pendidikan dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) mengadakan “Bursa Kerja & Expo Kemitraan SMK-DUDI Sumba 2025” yang digelar pada 24 Juni 2025 di SMKN 1 Waikabubak. Kegiatan ini diselenggarakan DESMA Center bersama lima SMK dampingan yang berfokus pada pengembangan pendidikan vokasi pariwisata di wilayah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini menjadi platform strategis yang mempertemukan alumni dan siswa SMK/SMA dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Peserta tidak hanya memperoleh informasi peluang kerja, tetapi juga mengikuti walk-in interview langsung, menghadiri sesi dialog inspiratif, dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara sekolah dan mitra industri sektor pariwisata.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah sesi “Dialog Inspiratif”, yang mempertemukan pelaku industri, alumni yang telah sukses dengan perwakilan pemerintah daerah dalam satu forum. Sesi ini mengangkat tema “Hard Skill itu Penting, Attitude Juara itu Pembeda” dengan moderator Boyke Hutapea, Program Manager DESMA Center. “Skill teknis bisa dipelajari. Tapi attitude yang positif, disiplin, jujur, dan mau belajar, itu yang sulit dicari,” ungkap Boyke saat memulai sesi dialog. Data infografis dipresentasikan dalam sesi ini turut menguatkan: 85% kesuksesan karier ditentukan oleh soft skills. Bahkan, 92% perekrut secara global menyatakan bahwa attitude lebih penting dibandingkan kemampuan teknis saat memilih karyawan baru.

Julian Caesar, Executive Housekeeper dari Arya Sumba Kodi, menyatakan, “Industri pariwisata membutuhkan SDM yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki service excellence dan kemampuan beradaptasi.” Amir Hasan Muhammad A. Majid, Duty Manager Sima Hotel, membuka peluang bagi siswa SMK. “Kami menyambut baik magang dari SMK, dan bagi yang berprestasi, kami siap merekrut mereka sebagai karyawan tetap.” Pernyataan ini disambut antusias oleh peserta, terutama siswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Semuel Dato Mesa, S.Sos., Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat, memaparkan visi pengembangan pariwisata di daerahnya. “Kami ingin lulusan SMK menjadi tulang punggung industri pariwisata Sumba, karena potensi daerah ini sangat besar.” Sementara itu, Lusiana Londong, dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menekankan pentingnya sertifikasi. “Kami mendorong lulusan SMK untuk mengikuti pelatihan dan uji kompetensi agar lebih mudah terserap di pasar kerja.”
Acara utama dalam bursa kerja ini adalah informasi lowongan kerja dan kesempatan upskilling pada instansi pendidikan lainnya. Peserta berkesempatan mengunjungi gerai-gerai perwakilan industri pariwisata serta pendidikan tinggi, seperti Arya Sumba, Alfamart, BLK Don Bosco, Universitas Stella Maris, dan Bank NTT untuk mencari informasi lowongan kerja.

Perwakilan HRD Alfamart Waikabubak berbagi kriteria rekrutmen. “Kami mencari karyawan yang jujur, disiplin, dan mau belajar. Keterampilan bisa diajarkan, tetapi attitude adalah prioritas utama.” Beberapa perusahaan seperti Cap Karoso dan Kambaniru Beach Hotel & Resort bergabung secara daring. Pencari kerja diarahkan untuk mengirim CV melalui link yang disediakan. “Kami membuka lowongan untuk posisi digital marketing dan administrasi bagi lulusan SMK,” jelas perwakilan Kambaniru melalui video conference. Seorang siswa SMK Pariwisata, Maria, mengungkapkan kesannya. “Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini karena memberi saya gambaran jelas tentang keterampilan yang harus saya tingkatkan.” Guru pendamping juga menyatakan, “Acara seperti ini sangat membantu sekolah dalam menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri.”
Kepala SMKN 1 Waikabubak, Yohana Landa, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kegiatan ini adalah langkah nyata membuka peluang kerja sekaligus memperkuat kurikulum sekolah berdasarkan kebutuhan industri,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Sumba Barat yang mewakili Koordinator Pengawas (Korwas) SMK/SMA Kabupaten Sumba Barat menambahkan, “Pemerintah mendorong terciptanya link and match antara SMK dan DUDI agar lulusan bisa langsung terserap di dunia kerja.”
Kegiatan ditutup dengan optimisme tinggi. Boyke Hutapea menyimpulkan, “Kolaborasi antara sekolah, industri, dan pemerintah adalah kunci menciptakan lulusan SMK yang siap kerja dan mampu bersaing di era digital.”
Sumba telah memulai langkah penting menuju pendidikan vokasi yang relevan dan adaptif dengan persyaratan dunia industri. Kini saatnya lebih banyak pihak terlibat, agar jembatan antara SMK dan dunia kerja semakin kokoh dan menciptakan lulusan SMK yang berkualitas.
