Language :

Menyambut Wonderful Indonesia


Oleh: Wiwik Mahdayani/DESMA Center

 

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik telah memperkenalkan dan mempromosikan slogan baru “Wonderful Indonesia” sebagai bagian dari target 7,7 juta wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke Indonesia pada 2011.

 

Slogan ini menggunakan logo yang sama dengan slogan “Visit Indonesia”, yaitu bentuk modern dari burung Garuda berupa 5 garis dengan 5 warna. Kelima garis ini melambangkan 5 sila pancasila, Sedangkan 5 warna merupakan perwakilan dari beragam budaya Indonesia dan ke-Bhineka Tunggal Ika-annya. Logo "Wonderful Indonesia" menggunakan jenis huruf yang terinspirasi ragam seni indonesia. Bentuk huruf yang luwes dan lentik terinspirasi dari seni ukir dan batik khas Indonesia yang telah dimodernisasi untuk menjaganya agar mudah dibaca. "Wonderful Indonesia" memiliki arti bahwa Indonesia indah dalam hal: Wonderful People, Wonderful Culture, Wonderful Natural Beauty, Wonderful Natural Resources, dan Wonderful Investment Opportunities (KemenBudPar, 2010).

 

Slogan indah semata tidaklah cukup jika tidak diimbangi visi mencapai tujuan bersama, serta kerjasama dan kordinasi untuk mewujudkan strategi dan melaksanakan program-program menarik untuk mendatangkan wisman. Indonesia sendiri menghadapi pasang surut dalam hal penerimaan wisman. Pada 2005, Indonesia menerima 5,002,101 wisman, lalu turun menjadi 4,871,351 pengunjung di tahun 2006 akibat dari bom bali II sebagai salah satu implikasi. Sedikit demi sedikit pariwisata Indonesia menunjukkan peningkatan di tahun 2007, 2008 dan 2009 dengan angka kunjungan  wisman sebanyak 5,505,759; 6,234,497 dan 6,323,730 (BPS, 2010).  

 

Posisi Indonesia

 

Mari melihat posisi Indonesia dalam peta pariwisata di Asia Tenggara (antar negara anggota ASEAN), sebelum Indonesia memposisikan diri pada peta Asia, dan kemudian dunia. ASEAN Secretariat merilis data kunjungan internasional 10 negara anggotanya dengan menempatkan Indonesia sebagai nomor 4 dalam posisi penerimaan wisman. Ketika Asia diserang krisis ekonomi pada 1998, keempat negara, Malaysia, Thailand, Singapura dan Indonesia berangkat pada angka kunjungan yang tidak begitu berbeda. Malaysia dengan 5,5 juta; Thailand dengan 7,7 juta; Singapura sebanyak 6,2 juta dan Indonesia dengan 4,6 juta (Tourism Malaysia, Tourism Authority Thailand, Singapore Tourism Board, BPS, 2010).     

 

Pada 2009, terjadi peningkatan pada 3 negara, Malaysia dengan menerima 23,646,191 wisman diikuti Thailand sebanyak 14,091,000 dan Singapura dengan 9,681,300 wisman (ASEAN Sec, 2010). Menariknya, 77% wisman yang berkunjung ke Malaysia berasal dari negara-negara anggota ASEAN. Pada tahun yang sama, Tourism Malaysia mencatat 12,733,082 kunjungan wisatawan asal Singapura. Padahal, Singapore Department of Statistics mengeluarkan data hasil sensus melalui konferensi persnya pada 31 Augustus 2010 bahwa jumlah penduduk Singapura per Juni 2010 adalah sebanyak 5,08 juta. Artinya rata-rata 1 jt lebih pengunjung asal Singapura pergi ke Malaysia setiap bulannya. Jumlah ini bisa saja berasal dari pekerja internasional yang banyak menetap di Singapura. Tourism Malaysia juga mencatat 2,405,360 wisatawan asal Indonesia sebagai pengunjung dengan posisi kedua terbanyak yang mengunjungi negara tersebut (Tourism Malaysia, 2010).

 

 Indonesia juga menjadi pasar utama bagi pariwisata Singapura. Bagian Research & Statistic, Singapore Tourism Board melaporkan bahwa sejak 2005 hingga 2009, Indonesia menjadi pasar nomor satu bagi Singapura dengan angka kunjungan 1,745,000 wisatawan asal Indonesia ke Singapura. Thailand juga tidak mau kalah dalam merebut pasar wisatawan asal Indonesia. Thailand, yang menerima lebih dari 71% wisatawan asing asal negara non-ASEAN telah meletakkan Indonesia dalam salah satu target pasarnya. Tourism Authority of Thailand (TAT) menyebutkan bahwa wisatawan asal Indonesia ke Thailand telah meningkat. Pada periode Januari – September 2010 sebanyak 205,890 pengunjung asal Indonesia datang ke Thailand. Jumlah ini meningkat 37,85% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Target ini diperkuat dengan diluncurkannya rute baru low-cost carrier AirAsia Medan-Bangkok dan Surabaya-Bangkok. Menambah jalur Medan-Phuket, Jakarta-Bangkok dan Denpasar-Bangkok yang sudah dilayani Garuda Indonesia, Thai Airways Internasional, Indonesia AirAsia dan Thai AirAsia. Bahkan TAT sudah mempersiapkan akan membuka kantor perwakilan khusus di Indonesia pada 2011 untuk melayani pasar Indonesia, yang saat ini masih dilakukan kantor perwakilannya di Singapura.

 

Bagi pasar pariwisata Indonesia, Singapura dan Malaysia adalah pengunjung terbanyak ke Indonesia. Pengunjung asal Singapura berjumlah 1,272,862 pada 2009, Hal ini mengalami penurunan dibanding jumlah wisatawan asal Malaysia yang terus meningkat hingga mencapai 1,179,366 pada 2009 lalu. Wisatawan asal Thailand yang berkunjung ke Indonesia juga masih sangat jauh tertinggal dari segi angka, namun mengalami peningkatan tingkat kunjungan sejak 2002, puncaknya pada 2009 lalu, sebanyak 109,547 pengunjung. 

 

Indonesia menjawab tantangan

 

Pariwisata memiliki tantangan dari sisi eksternal dan internal sebagai sebuah industri, Sisi eksternal pariwisata sebagai industri multisektor tentu sangat rentan terhadap issue-issue yang menjadi masalah klasik dalam pengembangan kepariwisataan di Indonesia seperti keamanan dan infrastruktur. Terorisme dan bencana alam masih menjadi salah satu bagian dari citra Indonesia, terutama yang tidak mengenal kondisi geografis tanah air. Sedangkan sisi internal, Sebagai negara kepulauan yang besar, Indonesia pun turut menghadapi tantangan aksesibilitas seperti transportasi, jalan yang kurang memadai, akses yang sulit dan jauh sehingga mengakibatkan biaya perjalanan menjadi lebih mahal. Pariwisata Indonesia masih didera masalah klasik lainnya seperti para pihak  yang belum memiliki keterpaduan dan kordinasi. Pihak publik dan swasta masih berjalan sendiri-sendiri terutama dalam hal promosi. Belum lagi di tingkat propinsi dan kabupaten di banyak daerah yang masih mengalami permasalahan kapasitas dalam mengelola dan mempromosikan serta menentukan skala prioritas pembangunan pariwisata di daerahnya. Apabila suatu daerah tidak menentukan pariwisata sebagai salah satu fokus pembangunan, Tentu hal ini adalah wajar karena tidak semua daerah memiliki potensi wisata. Sumber daya manusia di tingkat propinsi dan kabupaten terkadang masih tidak memposisikan potensi yang dimiliki dan cenderung ambisius dalam menentukan strategi dan langkah untuk membangun pariwisata di daerahnya. Produk-produk wisata di daerah sebenarnya sudah berkembang, hanya masih membutuhkan bungkusan dan dieksekusi sebagai produk wisata layak jual dan mengalami keterpaduan promosi. Dari sisi produk, saat ini sudah bukan saatnya Indonesia membicarakan potensi wisata yang masih belum jelas keberadaan dan nilai ekonomisnya. Destinasi wisata di Indonesia sudah ada dan terbentuk.                                  

Keamanan dan infrastruktur, adalah dua hal yang berada di luar ranah pariwisata. Tentu membutuhkan proses dan kerjasama untuk memperbaiki citra dan membangun infrastruktur yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun Indonesia yang berbentuk kepulauan. Namun daripada terus menjadikan keamanan dan infrastruktur sebagai kambing hitam yang masih berproses, pariwisata Indonesia butuh merespon cepat dan terukur sesuai situasi dan kondisi yang ada.

 

Indonesia butuh memaksimalkan kota-kota besarnya sebagai starting point perjalanan pengunjung. Bangkok, Kuala Lumpur, dan tentu saja Singapura, telah menjadi starting point utama untuk memulai perjalanan di 3 negara tersebut. Dari segi infrastruktur dan fasilitas, kota-kota tersebut siap melayani dan memberikan jasa layanan kepada pengunjung. Sementara Indonesia dengan wilayah yang sedemikian luas, masih mengandalkan Bali sebagai starting point. Jakarta sendiri belum menjadi primadona sebagai kota starting pointperjalanan wisatawan. Indonesia paling tidak butuh memaksimalkan setidaknya 4 kota yaitu Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar sebagai starting point untuk kemudian mendistribusikan penyebaran pengunjung ke berbagai destinasi wisata pilihan. Kota-kota tersebut dibutuhkan karena memiliki infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata, serta mampu menyalurkan pengunjung ke berbagai daerah yang dapat dilayani oleh penerbangan, transportasi darat dan laut. Sebagai ilustrasi, Thailand menggunakan Bangkok dan Pattaya sebagai starting point konvensional untuk “pengunjung baru” ke negara tersebut. Sedangkan Phuket dan Chiang Mai, ditargetkan sebagai destinasi untuk repeater. Tentu hal ini tidak berlaku mutlak, tapi kunjungan akan difokuskan ke destinasi-destinasi tersebut.

 

Medan, yang berjarak dekat dengan “pasar” yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand, akan menjadi gerbang penting untuk melayani destinasi di Sumatera dan Jawa. Jakarta menjadi gerbang penting bagi berbagai destinasi di Jawa, Sumatera dan banyak tempat lainnya. Sedangkan Surabaya dan Denpasar akan mampu melayani koneksi ke berbagai destinasi wisata di Indonesia bagian Timur.                          

Destination Management Organization atau Organisasi Manajemen Destinasi (DMO) yang sudah dipromosikan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata (DPD), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 2010 lalu, harus dihidupkan dan difungsikan dengan bentuk yang seharusnya. DMO yang menurut buku “Pedoman Pembentukan Pengembangan Destination Management Organization (DMO)” terbitan DPD (2010) didefinisikan sebagai tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis yang mencakup fungsi kordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik melalui pemanfaatan jejaring, informasi dan teknologi, yang terpimpin secara terpadu dengan peran serta masyarakat, pelaku/asosiasi, industri, akademisi, dan pemerintah yang memiliki tujuan, proses, dan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan, volume kunjungan wisata, lama tinggal dan besaran pengeluaran wisatawan serta manfaat bagi masyarakat lokal.

 

Dari definisi tersebut tata kelola destinasi pariwisata adalah kata kunci bahwa DMO yang dimaksud sedikit berbeda dengan yang sudah digariskan oleh UNWTO (lembaga PBB di bidang pariwisata).  Secara sederhana, DMO sebenarnya adalah tourism board atau Badan Promosi. Hanya saja, sebagai respon dari dinamisnya perkembangan pariwisata, teknologi dan informasi, fungsi tourism board saat ini tentu lebih kompleks dari pada hanya sekedar berpromosi destinasi wisata. Tourism Board saat ini dituntut untuk berperan lebih aktif dalam hal memilih produk-produk wisata unggulan yang layak jual untuk dipromosikan, berperan aktif dalam mengembangkan sumber daya manusia bidang promosi, menggunakan hasil-hasil riset untuk mengkoneksikan pasar dengan produk wisata, serta memberikan penghargaan bagi industri yang berprestasi dan kreatif  dalam memberikan layanan dan jasa yang berkualitas. Melihat begitu banyak kepentingan dan karakter usaha pariwisata di Indonesia, bentuk tourism board sebaiknya berupa kemitraan antara publik dan swasta. Proses akan berjalan agar fungsi-fungsi dan peranan tadi tidak tumpang tindih dengan dinas pariwisata di daerah dan tingkat nasional.

 

Ditambah lagi, UU No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan mengamanatkan pada Bab X pasal 36 dan seterusnya tentang pembentukan Badan Promosi Pariwisata Indonesia yang berkedudukan di ibukota negara. Dengan tugas meningkatkan citra kepariwisataan Indonesia; meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa; meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan pembelanjaan; menggalang pendanaan dari sumber selain  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara  dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan melakukan riset dalam rangka pengembangan usaha dan bisnis pariwisata. Dalam UU tersebut juga disebutkan badan promosi ini memiliki fungsi sebagai koordinator promosi pariwisata yang dilakukan dunia usaha di pusat dan daerah; dan  mitra kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Untuk selanjutnya UU ini juga mengamanatkan pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah yang berkedudukan di Ibukota Propinsi dan kabupaten/kota.    

 

Jauh sebelum istilah DMO diperkenalkan oleh UNWTO, Malaysia, Thailand dan Singapura telah mencuri startdengan membentuk badan promosi Malaysia Tourism Board atau yang dikenal dengan Tourism Malaysia, Tourism Authority of Thailand dan Singapore Tourism Board. Ketiga badan ini selain memiliki program-program menarik, serta website yang mengintegrasikan seluruh produk-produk wisata unggulan secara terpadu dalam satu website sejalan dengan tagline promosi seperti Malaysia Truly Asia, Amazing Thailand, dan YourSingapore. Indonesia sendiri juga sudah memiliki website Indonesia.travel untuk mengkordinasikan seluruh destinasi wisata berikut usaha terkait. Namun karena baru diluncurkan, masih belum berfungsi secara maksimal dan fungsi navigasi pada website tersebut masih terasa “berat”.  

 

Memaksimalkan pasar ASEAN yang negara anggotanya berada di satu kawasan yang relatif mudah dijangkau dari Indonesia sangat patut diperhitungkan. Pasar ASEAN juga relatif lebih “kebal” terhadap issue-issue non-pariwisata dan memiliki budaya yang tidak terlalu jauh berbeda sehingga lebih memudahkan perjalanan. Indonesia tidak hanya menargetkan pasar konvensional tapi juga pengunjung-pengunjung repeater untuk memaksimalkan destinasi wisata unggulan. Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Filipina sangat besar potensinya sebagai pasar untuk Indonesia. Sebagai contoh, Perancis, negara nomor satu yang paling banyak dikunjungi di dunia dengan 76,8 juta pengunjung, mendapat sumbangan kunjungan terbanyak dari negara-negara tetangganya seperti Inggris, Belgia, Luxemburg dan Jerman (Chiffres clés du tourisme, 2010).

 

Pemerintah sudah harus berani menseleksi destinasi wisata unggulan. Indonesia sangat indah dan memiliki banyak tempat yang patut dikunjungi, namun tidak semua wilayah bisa dipromosikan sekaligus. Fokus dan prioritas tentu diberikan kepada destinasi yang siap dengan layanan, jasa, serta tentu saja atraksi yang siap untuk dikunjungi. Untuk itu, diperlukan skala prioritas promosi destinasi wisata. Kita tidak akan tahu sebatas mana siap itu sampai kita mendapat “ujian” dari banyak dan lamanya kunjungan.

 

Maju terus Pariwisata Indonesia!!!